fajarnews

Wayang Ada Sejak Ribuan Tahun Lalu

Redaksi : Iwan Surya Permana | Sabtu, 20 Mei 2017 | 07:00 WIB

Ist
Nurdin M Noer, wartawan senior/budayawan Cirebon.*

Fajarnews.com- Tak bisa dimungkiri, Sunan Kalijaga adalah salah seorang anggota Walisanga yang piawai dalam mengadopsi berbagai kesenian Hindu menjadi bentuk yang Islami. Sunan yang seniman itu terbilang paling kreatif dalam mengutak-atik berbagai ragam kesenian. Siapa berani misalnya, yang menyatakan secara tak langsung, bahwa satu-satunya wayang bernama Samiaji –putra sulung Pandawa– yang berhak masuk surga, karena ia telah masuk Islam.

Samiaji atau Puntadewa (lidah wong Cerbon menyebutnya “Kuntadewa”) dalam khasanah wayang Jawa dikenal sebagai tokoh penyabar yang luar biasa. Ia menjadi sakti lantaran kesabaran dan kearifannya dalam memecahkan masalah. Mengapa ? Karena ia memiliki agem-agem atau jimat yang bernama Layang Kalimahsadah. Jimat itu selalu disimpan dalam sanggulnya.

Penetrasi (perembesan) nilai-nilai Islam pada masyarakat Hindu lewat wayang pada masa lalu ternyata sangat efektif. Putra Pandawa yang dalam Kitab Mahabharata digambarkan sebagai tokoh yang mampu mendaki Kahyangan di puncak Himalaya pada akhir kisah “Perang Bharatayudha” dikenal memiliki “darah putih.”  Berbeda dengan empat saudara Pandawa lainnya, Bima (Werkudara),  Arjuna (Janaka), Nakula dan Sadewa, yang gugur sebelum mampu mendaki puncak Mahameru. Pasalnya, keempat saudara Pandawa itu telah menyandang dosa semasa bertugas sebagai manusia di alam maya.

Dosa-dosa itu konon terkoreksi dalam tubuh wadag mereka dan tidak bisa dibersihkan begitu saja ketika mereka mendaki Kahyangan. Karena Kahyangan –alam tempat para dewa bersemayam– merupakan tempat suci yang tidak bisa dikotori siapapun. Meski oleh pemenang perang sekalipun, seperti yang dialami keluarga Pandawa.

Mahabharata yang ditulis Begawan Viyasa sekitar 3000 tahun sebelum masehi merupakan salah satu kitab suci penganut Hindu. Namun oleh Sunan Kalijaga kitab itu diadopsi menjadi bagian dari pelajaran bagi sebagian masyarakat Islam tradisional di Jawa hingga saat ini. Pergelaran wayang kulit di daerah manapun di Jawa pasti tak lepas dari pakem  yang telah dikembangkan Sunan Kalijaga.  

Cara memasukkan konsep-konsep Islam ke dalam konsep Hindu-Jawa melalui bahasa kebudayaan itu, menurut Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Atas (guru besar Universitas Malaya Kualalumpur), justru merupakan cara tulen tersendiri, hasil daya cipta para penyebar agama Islam di Jawa. “Kita harus tahu, bahwa para penyebar Islam di Jawa terpaksa menggunakan konsep-konsep agama Hindu-Jawa yang estetik itu kepada masyarakat yang telah lama hidup dalam suasana estetik.”

Pendekatan estetik dalam penyebaran Islam pada abad ke-15 ternyata terbukti ampuh. Kedua penganut agama (Hindu dan Islam) dalam pandangan Naquib Al-Atas ternyata memiliki pandangan estetika yang sama. Pada masyarakat Hindu nilai estetika diwujudkan pada upacara-upacara ritual yang melibatkan bentuk-bentuk alamiah, seperti janur kuning dan buah-buahan. Sedangkan pada masyarakat Islam nilai-nilai estetika dikembangkan melalui syair-syair yang ditembangkan pada karya Ja’far Al Barzanjie.

Wayang Kulit

Dalam bahasa Jawa, wayang berari “bayangan”.  Dalam bahasa Melayu disebut baying-bayang. Dalam bahasa Aceh bayèng, dalam bahasa Bugis, wayang atau baying. Akar kata dari wayang adalah yang. Akar kata ini bervariasi dengan yung,  yang, antara lain terdapat dalam kata laying-terbang, doyong-miring,  tidak stabil;  royong ­  selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain;  Poyang-payingan berjalan sempoyongan, “tidak senang” dan sebagainya (Mulyono, 1982). 

Dalam penelitiannya, wayang kulit merupakan  karya asli orang Jawa.  Ini didasarkan pada berbagai penelitian yang dilakukan pada ahli,  seperti Crawfurt yang menyatakan orang Jawa merupakan penemu drama Polynesia.  Sedangkan Hageman berkesimpulan, wayang diciptakan oleh Raden Kertapati dalam abad XII, yaitu dalam masa kejayaan kebudayaan yahng dipengaruhi Hindu. Bagi Ponsen, kemungkinan yang paling dekat kenyataan ialah, pertunjukan wayang mula-mula lahir di Jawa dengan bantuan dan bimbingan orang Jawa.  Dari kenyataannya,  ia berpendapat pertunjukan wayang tidak mungkin diambil  dari Hindu.

Wayang,  ternyata bukan hanya bentuk hiburan,  tetapi juga pendidikan atau penerangan untuk ilmu pengetahuan  dan untuk nilai kejiwaan atau rohani,  mistik dan simbolik (Purjadi, 2007). Dalam pandangan Mattew Isaac Cohen, pengajar di Dept. of Drama and Theatre Royal Holloway University of London, teater (seni pertunjukan rakyat) pada kasus tertentu bisa menjadi penting untuk membangkitkan memori komunal dan produk lokal. Pemain sandiwara misalnya,  menetapkan para anggota untuk menerima dan memecahkan kode (membaca sandi), menginterpretasikan, dan mencerminkan atas kinerjanya dengan membedakan sensitivitas seperti apa yang disebut Petr Bogatyrev sebagai "detail" dari kinerja. Detail yang selalu muncul dengan tidak menentu dan secara spontan, membuat produksi-produksi teater di tempat itu penuh arti dan resonan dalam meliput kesinambungan pentas tradisional di tengah zaman reproduksi yang elektronik (Cohen, Details, details: Methodological issues and practical considerations in a study of Barikan, a Cirebonese ritual drama for Wayang Kulit, WP, Juli 1999).

Masyarakat secara gotong-royong membangun pergelaran teater (wayang kulit) untuk upacara "Barikan" yang dilaksanakan setiap tahun di daerah Gegesik, termasuk desa-desa yang menjadi wilayahnya. "Barikan" sebagai upacara tradisional yang dilaksanakan setiap tahun untuk menandai musim tanam padi memainkan peran penting dalam identitas budaya lokal.

Komunitas masyarakat Cirebon yang sebagian besar didominasi agraris jelaslah merupakan komunitas masyarakat yang taat pada adat dan upacara-upacara tradisional. Bukan hanya "Barikan" yang setiap tahun harus ditanggapi wayang kulit, tetapi saat menjelang panen raya yang biasa disebut dengan "Mapag Sri."

Pada Asian Theatre Journal 16.2 (1999), ia menulis makalah dengan judul The Incantation of Semar Smiles: A Tarling Musical Drama by Pepen Effendi (Mantra Semar Mesem, sebuah drama musik karya Pepen Effendi). Ia memuji seniman tarling Pepen Effendi, lakon "Mantera Semar Mesem" boleh jadi disebut sebagai salah satu terobosan dalam sejarah tarling: Ia merupakan drama musik tarling pertama yang dipenuhi dialog dengan mayoritas lagu-lagu yang baru ditulis yang dikhususkan untuk permainan itu.

Sementara itu, Islam merupakan identitas utama, yang sebelumnya diwarnai kebudayaan Hindu dengan para dewa sebagai pahlawan yang digambarkan dalam pertunjukan wayang yang populer itu. Upacara ritus sebagai ucapan rasa syukur pada sebelum masa Islam dilakukan secara teratur pada banyak perdesaan di Cirebon. Banyak seni Cirebon, termasuk beberapa gaya tentang teater yang bersifat unik. Hal inilah yang dilupakan dalam literatur ilmiah dan populer di Indonesia.

Tidak ada sesuatu, menurut Mulyono,  yang mendukung dugaan  bahwa pertunjukan baying-bayang Jawa mengambil alih unsur kebudayaan asing. Di lain pihak tidak pula ada alasan  untuk menolak hipotesa bahwa wayang sepenuhnya diciptakan oleh orang-orang Jawa,  baik  mengenai tatanannya maupun namanya. Yang pasti wayang telah memiliki tempat kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa dan Nusantara.***

fajarnews.com