fajarnews

“Menusa Cerbon” Matthew Isaac Cohen

Redaksi : Iwan Surya Permana | Sabtu, 6 Mei 2017 | 07:00 WIB

Ist
Nurdin M Noer, wartawan senior/budayawan Cirebon.*

 

Fajarnews.com- Karakter “Menusa Cerbon” masuk begitu saja dalam pikiran Matthew Isaac Cohen, seorang Doktor seni pertunjukan lulusan Yale University Amerika Serikat. “Cirebon dan Indramayu, ternyata memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” ungkap Cohen ketika mampir di Kantor KMD (Koran Masuk Desa) Pikiran Rakyat Edisi Cirebon di Jl. Kartini No. 7 Cirebon pada sekira tahun 1987an. Saat itu ia tengah menyusun disertasinya tentang seni pertunjukan di Cirebon dan Indramayu.

Tak kalah menarik, Cohen sendiri ternyata mampu berbahasa Cerbon dan Jawa dengan baik, sehingga ketika ia melakukan penelitian di tengah masyarakat tak perlu ada juru bicara yang mendampinginya. Sesekali ia mampir ke Gegesik Kabupaten Cirebon menjumpai beberapa dalang wayang kulit dan penari topeng. Demikian juga di Indramayu, ia menemui Pepen Effendi untuk menggali seni tarling.  Terakhir kali Cohen di Cirebon pada sekitar Juni 2009. Ia menunjukkan kehandalannya sebagai dalang wayang kulit Cerbon di Keraton Kacirebonan.

Apa yang menarik dari wayang kulit? Pertanyaan ini sengaja saya sampaikan kepada Mathhew Isaac Cohen, Ph.D., untuk mengetahui di mana letak kenikmatan memainkan wayang kulit di mata bule kelahiran Massachusset itu.  "Semuanya menarik," katanya.

Ia pun kemudian mendekati puluhan panjak (nayaga) yang siap mengiringi permainannya. "Kiyen priben, wis beres kabeh tah!? (sekarang bagaimana, sudah beres semuanya?)," tanyanya kepada salah seorang panjak. "Siap, Bos," kata sang panjak.

"Blenconge murube kurang gede! (Api blencongnya kurang besar nyalanya)," kata salah seorang nayaga lagi. Matthew Cohen kemudian dengan sigap membereskan damar blencong yang menggantung di atas panggung wayang kulit. Tak ragu-ragu, bule yang disertasinya mengenai kesenian daerah Cirebon itu mengotak-atik api yang nampak makin membesar.

Cohen kemudian memulai abor (membuka tontonan wayang kulit) dengan memainkan dua gunungan. Lalu suluk pun terdengar nyaring, persis dalang asal Cirebon yang tengah memainkan wayang. Ia ternyata sangat fasih berbahasa Cirebon dialek Gegesik (daerah utara Cirebon) dan kemungkinan lebih halus ketimbang wong Cerbon-nya sendiri. Malam itu Cohen menjadi dalang wayang untuk lakon "Arjuna Sasrabahu", sebuah lakon galur (induk) yang mengisahkan seorang raja bertangan seribu yang berhadapan dengan rakyat kecil bernama Raden Sumantri.

Gedung Prabayaksa Keraton Kacirebonan malam itu (13/6/09) terasa sangat istimewa. Penuh aroma mistis karena memang bukan hanya Cohen yang berpentas tradisional, tetapi juga anak-anak muda yang menampilkan kesenian debus, sintren, dan pameran tosan aji. Cohen sendiri disorot lantaran keunikan dan kemampuannya dalam memainkan peranan melestarikan kesenian Cirebon.

Dua tokoh, masing-masing Matthew Isaac Cohen Ph.D., dan Ir. Musbar (Ketua Organisasi Panji Nusantara) malam itu dinobatkan Sultan Kacirebonan, Abdul Gani, sebagai keluarga keraton dengan gelar Ki Ngabehi Kandha Buwana. Maka nama Cohen pun ditambahi embel-embel. Lengkapnya Ki Ngabehi Kandha Buwana Matthew Isaac Cohen, Ph.D. Cohen pun jadi “Menusa Cerbon”.

Cohen bukan orang pertama yang mahir mendalang wayang kulit. Sebelumnya, Mark Hoffman, juga dari Amerika, sangat lihai memainkan wayang kulit Jawa. Mark Hoffman sering kali melakonkan cerita wayang dengan langgam Inggris-Jawa, sedangkan Cohen lebih memilih berbahasa Cirebon. Kesulitan Hoffman, menurut dia dalam wawancara dengan penulis sekitar tahun 1985-an, adalah saat suluk. "Suluk tak bisa diterjemahkan dalam bahasa Inggris," katanya.

Namun Cohen tak banyak mengalami kesulitan, saat bersuluk atau berdialog antara punakawan, para raja, dan tokoh wayang lainnya, karena memang ia menggunakan bahasa aslinya. 

Memori Komunal

Dalam pandangan Cohen, pengajar di Dept. of Drama and Theatre Royal Holloway University of London itu, teater (seni pertunjukan rakyat) pada kasus tertentu bisa menjadi penting untuk membangkitkan memori komunal dan produk lokal. Pemain sandiwara menetapkan para anggota untuk menerima dan memecahkan kode (membaca sandi), menginterpretasikan, dan mencerminkan atas kinerjanya dengan membedakan sensitivitas seperti apa yang disebut Petr Bogatyrev sebagai "detail" dari kinerja.

Detail yang selalu muncul dengan tidak menentu dan secara spontan, membuat produksi-produksi teater di tempat itu penuh arti dan resonan dalam meliput kesinambungan pentas tradisional di tengah zaman reproduksi yang elektronik (Cohen, Details, details: Methodological issues and practical considerations in a study of Barikan, a Cirebonese ritual drama for Wayang Kulit, WP, Juli 1999).

Masyarakat secara gotong-royong membangun pergelaran teater (wayang kulit) untuk upacara "Barikan" yang dilaksanakan setiap tahun di daerah Gegesik, termasuk desa-desa yang menjadi wilayahnya. "Barikan" sebagai upacara tradisional yang dilaksanakan setiap tahun untuk menandai musim tanam padi memainkan peran penting dalam identitas budaya lokal. 

Komunitas masyarakat Gegesik yang sebagian besar didominasi agraris jelaslah merupakan komunitas masyarakat yang taat pada adat dan upacara-upacara tradisional. Bukan hanya "Barikan" yang setiap tahun harus ditanggapi wayang kulit, tetapi saat menjelang panen yang biasa disebut dengan "mapag sri." 

Inilah yang memungkinkan ia tertarik pada wayang kulit. Cohen sendiri pada sekira akhir tahun 1989-an sering kali mondar-mandir ke daerah Gegesik dan belajar bahasa daerah setempat, lengkap dengan dialeknya yang khas. Bukan hanya wayang kulit yang menarik hati Cohen, tetapi juga pergelaran drama tarling di daerah Indramayu. 

Pada Asian Theatre Journal 16.2 (1999), ia menulis makalah dengan judul “The Incantation of Semar Smiles: A Tarling Musical Drama by Pepen Effendi” (Mantra Semar Mesem, sebuah drama musik karya Pepen Effendi). Ia memuji seniman tarling Pepen Effendi, lakon "Mantera Semar Mesem" boleh jadi disebut sebagai salah satu terobosan dalam sejarah tarling: Ia merupakan drama musik tarling pertama yang dipenuhi dialog dengan mayoritas lagu-lagu yang baru ditulis yang dikhususkan untuk permainan itu.

Di mata Cohen, masyarakat Cirebon sebagian besar berbicara dalam dialek khusus Jawa dengan campuran Melayu. Tampaknya, Cirebon benar-benar dipengaruhi budaya China. China memengaruhi secara nyata dalam motif cadas (wadasan; rock) dan awan (mega mendung; cloud) pada seni Cirebonan seperti barongsay atau tari naga (liong).

Sementara itu, Islam merupakan identitas utama, yang sebelumnya diwarnai kebudayaan Hindu dengan para dewa sebagai pahlawan yang digambarkan dalam pertunjukan wayang yang populer itu. Upacara ritus sebagai ucapan rasa syukur pada sebelum masa Islam dilakukan secara teratur pada banyak perdesaan di Cirebon. Banyak seni Cirebon, termasuk beberapa gaya tentang teater yang bersifat unik. Hal inilah yang dilupakan dalam literatur ilmiah dan populer di Indonesia.

Menurut dia, detail dapat tak terduga. Mereka sering diam-diam dan dapat dengan mudah dilewatkan. Tetapi bagi banyak penonton, mereka merasa kehilangan makna yang tak ternilai harganya. Detail sangat penting bagi pemain sandiwara. Mereka harus menjadi diri mereka sendiri melalui nuansa dan berbagai cara dalam menafsirkan untuk menetapkan dan memelihara pasar kinerja yang kompetitif. 

Bagi Ki Bahani, dalang wayang kulit asal Gegesik yang mengiringi Cohen mendalang, Cohen merupakan sosok unik yang kreatif. "Banyak mahasiswa bule datang ke Gegesik untuk belajar wayang dan kesenian setempat," katanya. Ia menunjuk Michael Ewing dari Yale University dan bahkan salah seorang saudara perempuannya, senimawati tari topeng Sumarni pernah menikah dengan bule. 

Daerah Gegesik Cirebon memang menarik bagi kalangan peneliti luar negeri. Daerah pertanian (agraris) yang subur dengan masyarakat yang masih sangat patuh terhadap adat, merupakan gudang dalang wayang yang kesohor, seperti H. Mansyur, H. Ismail, Bahani, Jublag (almarhum), Sudjana, dan lainnya. Dalam peta kesenian di wilayah Cirebon, Gegesik memang memberikan warna tersendiri.*** 

fajarnews.com