fajarnews

Pemuda dan Gaya Hidup Kekinian

Redaksi : Iwan Surya Permana | Kamis, 27 April 2017 | 07:00 WIB

Ist
Kafa Abdallah Kafaa, Mahasiswa Fisipol UGM.*

 

Fajarnews.com- Kebahagiaan dan kesenangan merupakan hak bagi setiap manusia. Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya. Kebahagiaan kiranya memilikiperbedaan dengan kesenangan. Kebahagiaan lebih bersifat psikologis-subjektif, sedangkan kesenangan lebih bersifat materiil-subjektif. Kebahagiaan tidak diukur dengan materiil, sedangkan kesenangan dapat diukur dengan materiil, tetapi persamaan antara keduanya adalah subjektifitas itu sendiri. Berbagai cara ditempuh demi tercapainya kebahagiaan dan kesenangan, baik itu dengan cara yang wajar maupun cara yang tidak wajar. (Christopher, 2007).

Masyarakat kita cenderung mencari kesenangan dan kebahagiaan dengan berbagai cara, bahkan dalam banyak kasus hingga menghalalkan segala cara. Inilah yang biasa kita kenal dengan masyarakat hedonis-permisif. Ditambah lagi dengan pola hidup konsumeristik. Hal ini bisa kita lihat khususnya pada kalangan pemuda. Pola hidup semacam ini mudah sekali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Kemajuan teknologi sekarang ini memang banyak menyuguhkan berbagai kebermanfaatan, terutama dalam hal informasi. Sebut saja salah satunya media televisi. Berbagai macam iklan tentang produk-produk yang ditawarkan secara sadar maupun tidak telah membius masyarakat. Kaum muda yang cenderung masih diliputi jiwa yang labil –untuk sekadar menyebut sifat yang lazim tercermin pada diri pemuda- menjadi sasaran utama para produsen produk-produk terkenal ini. Sehingga tidak mengherankan apabila budaya konsumerisme yang sebelumnya sudah melekat dalam diri bangsa ini dikuatkan lagi dengan budaya hedonis-permisif.

Globalisasi menjadi salah satu cikal-bakal pola hidup seperti ini. Siklus kehidupan yang seperti ini seakan menjadi suatu pola dan gaya hidup baru. Kemunculan budaya hedonisme terjadi tanpa kita sadari seiring dengan gerak zaman yang semakin modern. Gaya hidup yang glamour semakin digandrungi oleh para pemuda, terutama dalam hal barang-barang tersier. Mereka yang sudah tergila-gila dengan budaya konsumerisme akan rela melakukan apa saja demi memenuhi hasratnya.

Penulis mengasumsikan bahwa gaya hidup hedonis-permisif dan konsumerismememiliki hubungan yang cukup erat dengan kondisi sosial masyarakat kita. Pun yang menyebabkan lunturnya semangat kebersamaan, gotong-royong, solidaritas, serta apa saja yang menjadi ciri khas dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap individualitas dari pemuda bisa jadi salah satu implikasi dari gaya hidup tersebut. Pemuda nantinya tidak lagi aktif partisipatif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menyebabkan kemunduran keberfungsian organisasi kaum pemuda dalam masyarakat. Dengan demikian maka diperlukan sesuatu yang dapat membatasi diri pemuda agar tidak bergaya hidup hedonis-permisif dan konsumerism.

Urgensi Modal Sosial

Gaya hidup masyarakat khususnya pemuda sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial di masyarakat. Berangkat dari asumsi ini, maka kiranya batasan dari gaya hidup tersebut salah satunya dapat ditempuh dengan sesuatu yang berlatarbelakang sosial. Maka dari itu, penulis mengangkat kajian modal sosial sebagai sesuatu yang dapat membatasi gaya hidup yang demikian.

Modal sosial merupakan representasi dari sumber daya manusia, karena hal ini melibatkan harapan akan resiprositas, dan melampaui individu manapun, sehingga terlibat dalam suatu jaringan yang lebih luas lagi yang hubungan-hubungannya diatur oleh tingginya tingkat kepercayaan dan penerapan norma-norma serta nilai-nilai bersama. (Coleman, 1988). Berdasarkan pernyataan Coleman tersebut, maka kiranya ada beberapa hal penting yang mesti dicermati terutama dalam hubungannya dengan perihal pembatasan gaya hidup pemuda, antara lain partisipasi, resiprositas, kepercayaan, norma-norma sosial, nilai-nilai bersama, dan tindakan proaktif.

Partisipasi dalam suatu jaringan merupakan kunci keberhasilan dalam membangun modal sosial. Terletak pula kemampuan suatu kelompok atau jaringan dalam suatu pola hubungan sosial. Manusia merupakan makhluk sosial, yang artinya bahwa manusia selalu melakukan interaksi terhadap manusia lain. Interaksi tersebut bisa bermacam-macam bentuk yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya, kemudian menciptakan suatu pola hubungan sosial.

Modal sosial senantiasa diwarnai oleh kecenderungan saling tukar-menukar kebaikan antarindividu dalam suatu kelompok, atau kelompok dengan kelompok lainnya. Pola pertukaran ini bukanlah sesuatu yang dilakukan secara resiprokal seperti dalam proses jual beli, melainkan suatu kombinasi jangka pendek dan jangka panjang dalam nuansa semangat membantu dan mendahulukan kepentingan orang lain (altruisme).

Resiprositas erat kaitannya dengan masalah kepercayaan. Keinginan untuk mengambil risiko dalam hubungan-hubungan sosialnya selalu didasarkan pada perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung satu sama lain. (Putnam, 2000).

Perilaku dalam hubungan-hubungan sosial tidak akan pernah terlepas dari norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga semakin intens hubungan sosial dalam suatu masyarakat, secara tidak langsung hubungan sosial tersebut memiliki kekuatan pengikat perilaku individu. Hal ini dikarenakan adanya norma-norma yangbiasanya terinstitusionalisasikan dan mengandung sangsi sosial bagi siapa saja yang melanggar. Demikian juga dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Salah satu unsur penting dalam modal sosial adalah keinginan yang kuat dari setiap anggota kelompok yang dalam hal ini pemuda untuk tidak hanya berpartisipasi saja, melainkan mencarikan jalan bagi keterlibatan mereka dalam bermasyarakat secara aktif dan kreatif. Pemuda tersebut biasanya tidak menyukai hal-hal yang bersifat melayani, melainkan memberi pilihan untuk lebih banyak melayani secara proaktif.

Dalam upaya membangun modal sosial pemuda dalam masyarakat, salah satu alternatif strateginya adalah dengan membentuk komunitas atau organisasi kepemudaan yang inovatif guna mewadahi bakat dan minat kaum pemuda yang biasa disebut sebagai new innovative institution. Komunitas atau organisasi kepemudaan terbukti efektif untuk mengembangkan jaringan pemuda dan mampu mengarahkan peran pemuda yang lebih berimplikasi positif bagi masyarakat. Adanya komunitas kepemudaan yang mengusung spirit kebermanfaatan bagi sesama inilah yang mampu membendung wabah gaya hidup hedonis-permisif dan konsumerisme yang saat ini tengah melanda generasi muda kita.

Salah satu contoh komunitas kepemudaan yang sukses mengkerangkai aktivitas kaum muda yang lebih inspiratif adalah Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI). Komunitas tersebut merupakan organisasi kepemudaan yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan dengan mengakomodir pemberdayaan masyarakat desa dan edukasi lingkungan bagi anak-anak. Komunitas lain yang juga berhasil mengembangkan peran pemuda dalam merespon isu sosial adalah komunitas Jendela. Program komunitas Jendela berorientasi pada pendidikan alternatif dan pengembangan minat baca anak-anak. Dalam komunitas Jendela, peran pemuda adalah sebagai fasilitator yang mendampingi dan memberikan pembelajaran bagi anak-anak.

Berangkat dari penjelasan contoh komunitas yang dikemukakan di atas, maka kiranya dapatdijadikan sebuah refleksi bahwa peran pemuda dapat dioptimalkan dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan mampu merespon permasalahan sosial yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Sehingga peran pemuda dalam komunitas merupakan wujud modal sosial yang perlu untuk ditumbuh-kembangkan.

Persoalan gaya hidup berlebihan memang mengandung problematika yang kompleks, karena di setiap masyarakat memiliki struktur sosial, nilai-nilai, dan norma-norma yang berbeda. Tolok ukur berlebihan dalam hal gaya hidup pun tentu berbeda. Belum lagi gaya hidup sangat erat kaitannya dengan hak asasi manusia. Terdapat dua hal yang kiranya dapat mewakili gaya hidup berlebihan secara umum, yakni hedonisme-permisif dan konsumerisme. Kedua hal tersebut dianggap telah melampaui nilai-nilai umum yang ada di masyarakat, bahkan apabila sudah terlalu tinggi tingkat hedonisme-konsumtifnya, maka dapat melanggar norma-norma yang ada di masyarakat. 

Keberadaan komunitas kepemudaan kiranya dapat mendorong kegiatan yang dilakukan pemuda menjadi lebih bermanfaat dan terarah. Hal ini juga akan meningkatkan kepekaan dan kesadaran kritis kaum pemuda dalam merespon permasalahan sosial yang tengah dialami oleh masyarakat. Sehingga mampu memunculkan solusi yang inovatif dari kaum pemuda melalui program-program komunitas atau organisasi yang biasa disebut new innovative institution.

Melalui pembatasan diri dengan modal sosial, maka kiranya pemuda yang menjadi objek sekaligus subjek dalam pembahasan ini senantiasa untuk tidak terjun dalam gaya hidup yang berlebihan. Pembatasan diri ini bukan berarti menutup segala bentuk kebermanfaatan kemajuan teknologi dan globalisasi, melainkan sesuatu yang membatasi diri pemuda untuk tidak menggunakan kemajuan teknologi dan globalisasi tersebut tidak pada aras yang semestinya, apalagi hingga menjerumuskan kaum pemuda kepada gaya hidup yang hedonisme-permisif dan konsumeristik.***

fajarnews.com