fajarnews

Meningkatkan Kualitas Madrasah Diniyah Takmiliyah

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 18 April 2017 | 07:00 WIB

Ist
Titi Maryati Wahyudi, Pemerhati Pendidikan, Perempuan dan Anak.*

 

Fajarnews.com- Belum lama ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon menggodok kebijakan alokasi honor untuk guru (ustadz/ustadzah) Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di Kabupaten Cirebon sebagai wujud komitmen pemkab terhadap peningkatan kualitas madrasah. Kita tentunya sangat senang atas perhatian pemerintah terhadap dunia madrasah yang sejak dulu memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman agama bagi anak-anak.

Bicara kualitas pendidikan madrasah diniyah takmiliyah, tentunya madrasah adalah sebuah lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama (Kemenag) menyelenggarakan pendidikan berciri keagamaan. Madrasah diniyah takmiliyah  adalah pendidikan luar sekolah keagamaan yang diikuti oleh anak-anak sekolah dasar (SD) pada sore hari.

Lembaga Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (PDTA) dan lembaga pendidikan khusus sejenisnya selama ini telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam membekali anak memahami ajaran agama dan berbagai keterampilan. Lembaga pendidikan agama dan keterampilan telah banyak berkontribusi terhadap penanggulangan kenakalan remaja  dengan penguatan dasar-dasar moral agama.

Tujuan untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kekinian adalah tanggungjawab negara dan kita bersama. Oleh sebab itu, pemahaman dan kesadaran yang diperlukan saat ini adalah bagaimana kita mampu membangun kualitas pendidikan tingkat dasar, yakni pendidikan yang menyentuh anak-anak. Jika anak-anak Indonesia sehat, cerdas, karena sejak kecil dan pandai berdoa, maka pemimpin Indonesia di masa mendatang akan lebih baik.

Namun sayangnya, kebanyakan masyarakat kita saat ini, terutama para orangtua yang memiliki pendidikan tidak tinggi, masih memiliki pemahaman dan kesadaran yang rendah terhadap arti pentingnya pendidikan madrasah. Sehingga dengan kondisi demikian banyak madrasah yang kurang mendapat dukungan orangtua atau masyarakat sehingga kondisinya pun cenderung stagnan tidak ada peningkatan dan perbaikan kualitas. Madrasah DTA yang notabene kebanyakan berada di desa-desa atau kampung-kampung di mana masih banyak orangtua masih memandang madrasah dengan uturan terakhir sebagai pendidikan agama yang kurang begitu mendapat perhatian.

Tentu ini sebuah pandangan yang keliru. Bagaimanapun pendidikan madrasah sangat bermanfaat terhadap daya rangsang moral agama, akhlak kharimah, otak anak dan pertumbuhan sosial psikomotorik anak. Bahkan juga agama menganjurkan pendidikan anak harus di­mulai sejak dalam kandungan ibu­nya. Itu berarti pendidikan agama sejak dini sangat dianjurkan.

Tentu pendidikan di MDTA di sini tidak sebatas diartikan hanya pendidikan agama nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga masyarakat, tetapi juga sebuah pola asuh keluarga yang bermuatan nilai edukatif terhadap tumbuh kembang anak sehingga terbentuk kepribadian religius. Namun tanpa dipungkiri, justru sebenarnya pendidikan MDTA nonformal yang dilaksanakan oleh masyarakat memiliki peran dan fungsi sangat penting terutama bagi masyarakat perdesaan dan perkampungan.

Oleh sebab itulah, gerakan pendidikan MDTA harus dijadikan kesadaran kolektif-sosial kita semua. Bagaimana pemerintah memainkan peran lebih spektakuler lagi dengan mencanangkan Program Wajib Belajar MDTA lebih massif dan struktural, yang diikuti dengan pembangunan fisik dan non-fisik seperti pendanaan untuk tenaga tutor atau pengajar, dan menumbuhkembangkan peran ma­syarakat yang mau berkorban secara materi untuk mendirikan lembaga madrasah DTA. Jangan sampai pemerintah kurang memberikan perhatian yang maksimal dalam kebutuhan anggaran program ini. Sudah saatnya pemerintah daerah mengalokasikan dana melalui APBD guna terselenggaranya program MDTA.

Kita tahu bahwa sejak lama, Kementrian Agama RI dan dinas pendidikan di sejumlah daerah, memulai penggalakkan pelaksanaan program MDTA secara formal dalam upaya mencetak dan menyiapkan generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Sekalipun perkembangan MDTA beberapa tahun ke belakang cukup menggembirakan, namun pertumbuhannya belumlah merata. Kenyataan yang ada justru masih banyak di perdesaan yang justru belum tersentuh pendidikan MDTA.

Saat ini mamang keberadaan lembaga nonformal MDTA yang menjamur di tengah-tengah masyarakat menjadi fenomena tersendiri. Namun keberadaan MDTA secara kuantitatif dan kualitatif masih sangat memprihatinkan. Banyaknya kendala yang ada se­hing­ga upaya yang dilakukan be­lum bisa secara optimal sehingga menjadi wajar keberadaan MDTA masih sangat terbatas dari berbagai aspeknya.  Selain karena masih rendahnya kesadaran para orangtua (terutama di desa-desa dan perkampungan) mengenai arti dan manfaat pentingnya pendidikan MDTA, sehingga enggan atau tidak tertarik untuk memasukkan putra-putrinya ke MDTA.

Ditambah lagi, kebijakan “pendidikan lima hari” akan mematikan lembaga pendidikan DTA dan lembaga pendidikan khusus sejenisnya yang selama ini telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam membekali anak memahami ajaran agama dan berbagai keterampilan. Padahal, lembaga pendidikan agama dan keterampilan telah banyak berkontribusi terhadap penanggulangan kenakalan remaja. Bila hal ini terjadi, maka kebijakan negara akan berakibat pada semakin rendahnya pemahaman agama generasi bangsa mengingat pelajaran agama sangat minim didapat di sekolah dasar. Kita takut generasi bangsa di negeri ini dan semakin jauhnya umat Islam dari ajaran agamanya. (Samsul Nizar: 2017).

Padahal jika kita cermati banyak manfaat  besar dalam pendidikan MDTA bagi perkembangan kualitas keagamaan dan moral. Bagaimana pun dalam proses pendidikan MDTA berlangsung kegiat­an-kegiatan belajar mengenal huruf Alquran, belajar bahasa Arab, fikih, sejarah Islam, akidah akhlak dan lainnya.***

fajarnews.com