fajarnews

TNI AU setelah 71 Tahun Mengudara

Redaksi : Iwan Surya Permana | Kamis, 13 April 2017 | 07:00 WIB

Oleh Ridwan Nanda Mulyana (Esais FIB, Undip)

Fajarnews.com- “Kuasai udara untuk melaksanakan kehendak nasional, karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang menentukan dalam perang modern”. (Bung Karno, semasa menjadi Presiden RI dalam salah satu pidatonya di bulan April tahun 1955).           

Pada tanggal 9 April 2017, Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU) telah berusia 71 tahun. Dalam kilasan sejarahnya, penjaga kedaulatan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini mulai mengabdi demi keamanan bangsa sejak 9 April 1946. Saat itu, dilakukan peningkatan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI)-AU. Dalam babak sejarah selanjutnya, TNI AU pernah juga dikenal sebagai AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

Di beberapa negara, hari jadi angkatan udaranya sering dinamakan sebagai Air Force Day. Di Indonesia sendiri, menurut Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Chappy Hakim, pada saat Bung Karno menjabat sebagai presiden, sangat memberikan perhatian yang besar terhadap angkatan udara. Pada saat itu, tanggal 9 April dijadikan sebagai Hari Penerbangan Nasional. Menurutnya, sebagai penjuru depan kekuatan di udara, TNI-AU sudah semestinya dinilai sebagai salah satu pilar negara dan bangsa dalam mempertahankan sekaligus mengangkat martabat Indonesia yang berdaulat dengan memiliki National Airpower yang kuat (Media Indonesia, 9/4).

Persoalan Alutsista

Bicara soal TNI, apalagi tentang TNI-AU yang memang sangat membutuhkan perlengkapan tugas (tempur) dengan kondisi yang baik dan semutakhir mungkin, maka kondisi Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) yang dimiliki oleh Indonesia menjadi tema penting, yang seringkali disoroti sebagai pemicu masalah serius dalam sejumlah kecelakaan yang melibatkan TNI.

Harian ini (Fajar Cirebon), pada Kamis 31 Maret 2016, pernah memuat tulisan dengan judul “Tata Kelola Alutsista TNI Perlu Dievaluasi”, hal ini mengingat beberapa kejadian (kecelakaan) yang diduga disebabkan oleh kondisi alutsista yang buruk, sehingga mendatangkan musibah yang merugikan negara, rakyat, dan prajurit TNI sendiri. Agar musibah tersebut tidak terus berulang dan hidup prajurit bisa lebih terjaga dengan baik dalam jihad melaksanakan tugas untuk mengamankan negara, maka evaluasi (dan juga revitalisasi) alutsista menjadi suatu kebutuhan yang tak boleh dikesampingkan.

Beberapa kecelakaan tersebut antara lain: musibah jatuhnya pesawat Super Tucano TNI-AU di Malang, Jawa Timur pada 10 Februari 2016. Juga sebelumnya, pesawat Golden Eagle TNI AU yang jatuh di Yogyakarta pada Desember 2015. Jika dirunut kebelakang, beberapa musibah lainnya pernah terjadi pada 12 Juni 2009, saat Helikopter Puma H3306 TNI AU mengalami kecelakaan di Lapangan Udara Atang Senjaya, Bogor. Pada 11 Maret 2008, helikopter latih TNI AU jenis Bell-47G solo buatan tahun 1976 jatuh di ladang tebu Desa Wanasari, Subang (Jawa Barat). Lalu pada 23 Desember 2004, helikopter Super Puma TNI AU jatuh di Desa Surgede, Wonosobo, Jawa Tengah (Fajar Cirebon, 31/3).

Kita tentu sangat berduka dengan berbagai musibah di atas. Seraya berharap agar musibah tersebut tidak terus berulang, sekaligus tidak ada lagi prajurit yang meninggal dalam tugas (maupun latihan) akibat kondisi alutsista yang tak prima.

Memang, patut digaris bawahi, semua musibah kecelakaan yang terjadi tidak 100% murni akibat kondisi alutsista (pesawat/helikopter) yang jelek. Banyak faktor lain yang dapat menyebabkan kecelakaan, seperti kesalahan teknis, kesiapan prajurit, cuaca, maupun faktor non-teknis lainnya. Namun, sebagaimana yang disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk para pakar militer dan penerbangan, kondisi alutsista memang menjadi faktor yang sangat menentukan selamat atau tidaknya prajurit dalam mengudara.

Pendeknya, jangankan untuk dapat secara total dan optimal mengamankan wilayah kedaulatan udara NKRI yang begitu luas ini, menyelamatkan para awak pesawatnya saja masih menjadi PR besar yang harus diselesaikan oleh republik ini.

Amanat KSAU

Dalam amanatnya pada peringatan HUT TNI-AU tahun lalu, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna, menegaskan bahwa saat ini wilayah udara bukan lagi lahan kosong yang tidak bermakna, melainkan menjadi bagian wilayah yang sangat menentukan bagi kedaulatan suatu negara, kepentingan nasional dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Hal ini mengandung arti bahwa, pemanfaatan dan penggunaan ruang udara merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi tercapainya kepentingan Negara.

Dalam konteks Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia, dimana satu pertiganya daratan dan dua pertiganya adalah lautan. Dari kesemuanya itu, jarang dipahami secara utuh bahwa  semua luas wilayah yang dimiliki oleh NKRI, tiga pertiganya adalah udara! Dengan demikian, kekuatan udara menjadi hal penting yang harus dikelola secara bersama-sama, agar mampu mengontrol seluruh ruang udara nasionalnya. Karena untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, secara mutlak perlu didukung oleh kekuatan udara yang kapabel.

Seperti yang penulis kutip dari situs tni-au.mil.id, Kasau memberikan lima Penekanan dalam amanatnya tersebut, yakni: pertama, implementasikan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai landasan moral dalam setiap pelaksanaan tugas. Kedua, tingkatkan disiplin, loyalitas sekaligus budaya berpikir kreatif, inovatif dan solutif, sebagai upaya menghadapi berbagai keterbatasan dan hambatan dalam pelaksanaan tugas di lapangan, agar dapat menjaga kesiapan dan kemampuan TNI AU secara optimal.

Ketiga, tingkatkan pemeliharaan dan perawatan Alutsista, dengan memantapkan budaya safety, guna mewujudkan zero accident dalam rangka optimalisasi peran dan tugas TNI AU, baik untuk saat ini dan yang akan datang. Keempat, bina dan tingkatkan koordinasi dengan sesama anggota TNI, Polri dan masyarakat, dengan selalu membangun semangat ke-Bhineka Tunggal Ika-an. Kelima, tingkatkan profesionalisme melalui belajar dan berlatih, baik secara mandiri maupun kedinasan, karena sesungguhnya tidak ada prajurit yang hebat, yang ada adalah prajurit yang terlatih.

Pada titik ini, kita tentu berharap, TNI AU akan semakin profesional, menjadi angkatan udara tangguh, teruji dan terpuji yang tetap dekat dengan rakyat. Artinya, sejauh apa pun TNI AU mengudara, landasannya harus tetap pada kepentingan dan kedaulatan tanah air Indonesia. Meskipun tugas dan tantangan semakin berat, namun dengan semangat TNI yang berslogan: “Tentara Pejuang: Bersama Rakyat, TNI Kuat!” tantangan dan tugas yang berat itu pasti akan terasa tidak memberatkan. Kelima amanat dari Kasau tersebut memang semestinya menjadi acuan bagi para prajurit TNI AU untuk bergerak, sekaligus dapat menjadi cermin bagi angkatan yang lainnya, termasuk kepolisian.

Akhir kata, dirgahayu, selamat HUT ke-71 TNI AU, semoga semakin jaya di udara untuk menjaga kedaulatan NKRI, dan terima kasih atas darma baktinya selama 71 tahun Indonesia merdeka. Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!***

fajarnews.com