fajarnews

Pribumisasi Islam: Teroka Budaya Nusantara

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 11 April 2017 | 07:00 WIB

Ist
Abdul Rosyidi, Pegiat komunitas Ghuraba Circle.*

 

Fajarnews.com- Pribumisasi Islam bukan hanya ihwal Islam yang begitu akomodatif terhadap kearifan lokal belaka, tapi ia juga mengandaikan sebuah budaya yang benar-benar siap dan terbuka menerima nilai-nilai asing. Hipotesa ini berangkat dari asumsi bahwa setiap budaya harus lebih dulu memiliki kedudukan setara sebelum perpaduannya menghasilkan sebuah tegangan kreatif. Kedudukan setara ini memungkinkan kedua entitas saling melengkapi dan menyempurnakan. Jadi prinsip kesalingan (resiprokal) tak boleh dilepaskan sama sekali untuk bisa menjelaskan pribumisasi Islam di Nusantara secara lebih utuh.

Berangkat dari hipotesa tersebut, kajian mengenai betapa budaya Nusantara sangat mengakomodasi nilai-nilai asing menjadi penting dilakukan. Mengingat wacana pribumisasi Islam baru sebatas pada elaborasi Islam yang ‘lentur’ saat menerima nilai-nilai lokalitas. Kajian ini bisa kita awali dengan melacak beberapa catatan mengenai sejarah masa lampau, ingatan kolektif masyarakat, arkeologi maupun yang bidang lainnya yang terkait.

Dalam Mitra Satata: Kajian Asia Tenggara Kuna, arkeolog Agus Aris Munandar mengatakan bahwa salah satu ciri dari bangsa Austronesia di Asia tenggara (termasuk Indonesia) adalah mereka mampu berinteraksi dan berdialog dengan budaya luar yang datang. Kemudian unsur kebudayaan luar itu menjadi luluh dan perlahan menjadi miliknya sendiri. Tentu saja apa yang dikatakan Munandar menarik untuk didalami lebih jauh karena kesimpulan ini pun mendapat banyak tentangan.

Dia pun melacak watak peradaban Nusantara yang unik ini dengan berdasar pada teori yang mengatakan bahwa asal muasal bangsa Austronesia adalah satu koloni sebelum akhirnya dipisahkan oleh permukaan air yang naik akibat pencairan es di kutub pada zaman Pleistosen. Menariknya, meski seorang arkeolog, Munandar tak ragu menggunakan mitos untuk merekonstruksi sejarah peradaban tersebut.

Dia menganalisis beberapa mitos dari berbagai daerah di Asia Tenggara dan sekitarnya. Dia mencermati mitos Suku Daya Ngaju, Batak, Nias, Sumba, Flores, Minahasa, Toraja, Kanekes, asal-usul manusia di Pulau Jawa, Aji Saka, bangsa Aboribin di Australia, bangsa Ifugao di Filipina, Thailand, Cina, hingga cerita dalam mitologi Hindu. Dari sekian banyak cerita tersebut kuat kemungkinan bahwa mitos-mitos tersebut bukan sekadar cerita rekaan irasional melainkan sebuah ingatan kolektif masyarakat yang terbiaskan oleh rentangan zaman. Percaya atau tidak, semua mitos yang dicermati Munandar mempunyai beberapa kesamaan tema.

Meskipun bercerita tantang sosok yang berbeda tapi beberapa kesamaan ada di dalam cerita-cerita tersebut. Ada cerita tentang banjir besar, cerita tentang sebuah pohon hayat, cerita tentang penghormatan terhadap gunung dan cerita tentang perahu. Dari kesamaan tema-tema tersebut, kuat diduga memang dulu bangsa Austronesia berasal dari satu koloni yang terpisah gegara banjir besar. Mereka yang selamat dan menghuni kepulauan Nusantara adalah mereka yang ‘diselamatkan’ pohon-pohon besar, naik ke atas gunung ataupun naik perahu. Tak heran jika pohon-pohon besar dan puncak gunung menjadi tempat yang amat istimewa dalam peradaban di Nusantara.

Hingga masa jauh ke depan, ingatan kolektif orang-orang yang menghuni pulau-pulau di Nusantara tak pernah lupa bahwa mereka yang berada nun jauh di seberang lautan sana tak lain adalah saudara. Maka, bangsa yang terpisah ini mengidentifikasi bangsanya bukan sebagai tanah, pulau, benua atau land, melainkan Tanah Air. Bukan hanya daratan tapi juga lautan, karena yang berada di seberang lautan sana juga saudara.

Lebih jauh, Primadi Tabrani pernah mencoba membandingkan watak manusia kepulauan seperti Indonesia dengan watak manusia benua seperti Eropa dan lainnya. Menurutnya, watak manusia kepulauan cenderung dengan perdamaian dengan orang asing. Sementara watak manusia benua cenderung berseteru dengan yang berbeda, apalagi yang asing.

Hal ini dia buktikan dengan banyaknya pertempuran di negeri yang ada di tengah benua dan harmoninya negeri-negeri kepulauan. Bagi Tabrani, Indonesia merupakan kebalikan dari apa yang terjadi di Eropa. Di Indonesia tercipta bangsa dulu baru kemudian muncul suku yang beraneka ragam. Berbeda dengan orang benua yang mulai dengan etnik dulu kemudian baru bangsa.

Keberadaan bangsa di kepulauan Indonesia yang memiliki peradaban mandiri dan mempunyai ciri yang kuat diakui banyak ilmuwan, salah satunya adalah sejarawan Belanda, Bernard H.M. Vlekke. Dia meyakini bahwa ketika India pertama menetap di Kepulauan Indonesia mereka tidak berjumpa dengan orang-orang yang tidak beradab, yang bisa dengan seenaknya mereka cekoki dengan budaya mereka sendiri.

Yang terjadi saat itu adalah intensitas hubungan Indonesia-India dan pada akhirnya orang Indonesia meminta sumber kekuatan India, monumen, ajaran dan ilmu gaib dari India. Negara-negara di Indonesia sudah ada sebelum mengadopsi peradaban asing, tapi pengaruh asing itulah yang membuat mereka jadi ‘vokal’.

Peradaban yang dimaksud Vlekke adalah sebuah local genius yang mampu mengatasi agama-agama. Ia adalah sebuah kebiasaan ‘menerima kultus baru tanpa menolak yang lama’. Banyak penguasa di Indonesia menganut Buddhisme tapi ini tidak dengan sendirinya berarti Buddhisme menjadi agama ‘resmi’ dengan menyingkirkan semua keyakinan dan praktik agama lain.

Perang agama jarang terjadi dalam sejarah Pulau Jawa, bahkan ketika Islam masuk. Penjelasan yang lebih masuk akal atas peristiwa-peristiwa tersebut adalah bahwa keputusan menganut Buddhisme atau Shiwaisme adalah urusan yang ditentukan para raja. Dan bahwa masuknya satu agama baru tidak menimbulkan perubahan mendasar dalam praktik pemujaan popular. Walaupun mungkin ada tambahan unsur-unsur baru. Juga tidak ada tuntutan terhadap rakyat banyak untuk menganut ajaran Buddha atau secara eksklusif menyembah dewa-dewa Shiwais.

Bingkai ‘menerima kultus baru tanpa menolak yang lama’ sepertinya digunakan oleh Vlekke untuk menafsirkan data-data historis yang tidak bisa dipahami orang Eropa seperti dia. Baginya, berganti-gantinya agama dalam setiap kurun sejarah tak pernah sekalipun terdapat perselisihan dan pertumpahan darah atas nama agama cukup mengherankan.

Bahkan, salah satu dinasti Singhasari memadukan dua agama yang jelas berbeda yang kemudian disebut Shiwa-Buddha atau dalam sejarah popular disebut agama Hindu-Buddha. Padahal, dalam kenyataannya tak ada agama yang mencampuradukkan Hindu dan Buddha. Yang seperti ini hanya ada di Nusantara.

Segala ajaran apapun diterima dengan baik oleh orang-orang Nusantara dan lambat laun ajaran tersebut menjadi miliknya, dalam artian sudah tak sama lagi dengan ajaran dari daerah asalnya. Hindu di Bali tak sama dengan Hindu dari India, Buddha di Kalimantan tidak sama dengan Buddha di Tiongkok, pun Islam di Jawa tak pernah sama dengan Islam di Arab.

Semua itu karena tegangan yang terjadi antara dua entitas, religiositas dan lokalitas menjadi sebuah energi kreatif yang luar biasa hingga menciptakan peradaban sendiri yang berbeda dari peradaban manapun juga. Di sinilah letak kecerdasan para pendiri bangsa yang mempertahankan mati-matian falsafah bangsa, Pancasila yang mengakomodir semua agama. Juga bentuk negara kesatuan yang merupakan kesadaran total tentang tanah dan air, Nusantara.

Jadi, pemahaman dan gerakan keagamaan yang akhir-akhir ini terus mengumandangkan syariatisasi negara dan islamisasi negara merupakan sebuah langkah mundur kalau tak bisa dikatakan ahistoris. Sebab, sejak awalnya Nusantara adalah sebuah bangsa yang terbuka menerima segala perbedaan suku, agama, bahasa, warna kulit dan sebagainya.***

      

Sumber:

Agus Aris Munandar, Mitra Satata: Kajian Asia Tenggara Kuna, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2014)

Bernard H.M. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia, terj. Samsudin Berlian, (Jakarta: KPG, 2016).

Primadi Tabrani, Belajar dari Sejarah dan Lingkungan: Sebuah Renungan Mengenai Wawasan Kebangsaan dan Dampak Globalisasi, (Bandung: Pustaka ITB, 1999).

fajarnews.com