fajarnews

Mengembangkan Ekonomi Kreatif Sastra

Redaksi : Iwan Surya Permana | Jumat, 7 April 2017 | 07:00 WIB

Ist
Verry Wahyudi, Pemerhati Politik dan Ekonomi.*

Fajarnews.com- Kita suka puisi. Indikasinya kita menulis dan menikmati puisi, dalam artian membaca dan mendiskusikan puisi, serta menonton atau tampil dalam acara pentas baca, teatrikal, serta musikalisasi puisi. Rasa suka ini tentunya dapat dimaklumi, karena puisi memang membawa kalimat indah dan pesan yang sangat bermanfaat.

Sebagaimana fitrah manusia memang suka atau butuh kalimat indah dan pesan yang amat bermanfaat. Apalagi kalau puisi membahas cinta, penulis dan penikmat puisi kadang gandrung akan hal ini. Kemudian ada puisi yang mengulas keelokan alam. Lalu ada puisi yang membincangkan kritik dan kepedulian sosial. Serta ada pula puisi yang membicarakan nilai-nilai agama. Tiap penulis dan penikmat puisi biasanya memiliki pilihan masing-masing tentang puisi apa yang paling digemarinya.

Dengan bahasa yang kian akademis, boleh dikatakan bahwa puisi mempunyai estetika dan etika. Estetika mesti mengandung etika. Begitu pula sebaliknya, etika harus mengandung estetika. Puisi memadukan estetika dan etika. Puisi mengekspresikan estetika dan etika. Puisi memancarkan estetika dan etika.

Menyiarkan dan mengamalkan etika dengan pendekatan estetika, ini bakal menghadirkan falsafah dan karakter bagus, terbuka, toleran, dan maju. Paradigma semacam inilah sesungguhnya yang memang sesuai dengan kondisi kemajemukan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia memerlukan pemimpin, elite, serta rakyatnya yang mempunyai falsafah dan karakter bagus, terbuka, toleran, dan maju dalam menghargai kemajemukan. Atau maksudnya, jika saling toleran dan bersatu dalam kemajemukan, maka kita bisa bergerak maju bersama.

Kita terpesona pada puisi. Seperti terpesonanya kita pada pelangi. Keduanya sama-sama membawa keindahan dan pesan yang amat bermanfaat. Puisi mewakilkan cara pandang. Puisi mengamanatkan suara hati. Kita suka santai sore di kafe, restoran, pantai, atau perbukitan yang di hadapannya ada pemandangan alam luas, seiring untuk menyaksikan pelangi. Penulis puisi dan pelukis pun senang menggambar pelangi dalam karya-karyanya. Puisi dan pelangi membuat suasana semakin romantis. Kita suka menulis atau membaca puisi cinta untuk pasangan kita. 

Menjaga Kesukaan

Di samping puisi, ada karya sastra lainnya, seumpama cerpen. Kita juga suka cerpen. Kita menulis dan menikmati cerpen. Rasa kesukaan kita kepada sastra harus senantiasa dijaga. Menulis atau menikmati sastra adalah dedikasi untuk merawat eksistensi sastra. Indonesia kaya ihwal karya sastra. Sastrawan Tanah Air pun banyak yang sukses nan terkenal sampai ke tingkat internasional.

Sambil dalam rangka kaderisasi guna mencetak sastrawan masa depan, betapa hari-hari ini perlu sekolah, perguruan tinggi, atau komunitas yang memiliki program tersebut. Sekolah, perguruan tinggi, atau komunitas mesti mampu membentuk peserta didiknya yang berminat menjadi sastrawan. Misalkan, dengan cara menghidupkan kesukaan mereka terhadap sastra; mengajari mereka menulis puisi atau cerpen yang apik; menuntun mereka memuat karyanya di koran dan majalah; memotivasi mereka menerbitkan buku puisi atau cerpen; mengarahkan mereka tampil mementaskan karyanya; serta menyambungkan kenalan atau jaringan mereka dengan sastrawan sukses.

Ekonomi Kreatif

Sembari ada lagi tugas kita, yakni bagaimana hari-hari ini sanggup pula memantapkan peran sastra dalam konteks pembangunan ekonomi. Maksudnya, sastra sejatinya juga dapat dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif. Sastra memiliki hubungan dengan ekonomi kreatif. Karya tulis atau sastra layak menjadi subsektor dari ekonomi kreatif. Contohnya, puisi bisa ditulis di lukisan. Atau puisi dipajang di fotografi yang berlatarbelakang pemandangan. Atau puisi dibacakan dalam video.

Atau puisi dapat ditampilkan dalam film, seperti film “Ada Apa Dengan Cinta” (karya Rudi Soedjarwo dan dibintangi Dian Sastrowardoyo), yang fenomenal dan menarik banyak penonton itu. Bahkan hari-hari ini memang banyak film yang dibuat berdasarkan cerpen/novel. Ini pun hakikatnya bisa dipahami sebagai sastra yang memiliki relevansi dengan ekonomi kreatif. Film, lukisan, fotografi, serta video merupakan produk ekonomi kreatif yang sangat laris manis.

Selama ini yang paling kentara, ekonomi kreatif sastra dikembangkan dalam wujud penerbitan dan penjualan buku sastra. Ini kudu dipertahankan. Sembari ke depannya ekonomi kreatif sastra mesti juga dikembangkan dalam atau menjadi lukisan, fotografi, video, serta film (khususnya dengan keterangan seperti yang telah dibahas di atas).

Bila merujuk Wikipedia, ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini biasanya akan didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi pengejawantahannya.

Terminologi “ekonomi kreatif” pertama kali dimunculkan John Howkins (2001). Ia menulis buku berjudul “Creative Economy, How People Make Money from Ideas”. Howkins mengartikan ekonomi kreatif ialah “the creation of value as a result of idea (penciptaan nilai sebagai hasil dari sebuah ide)”. Dan Poynter pun pernah mengungkapkan “writing is not a job; it’s business (tulisan merupakan komoditas jasa sekaligus produk yang memang bisa dibisniskan atau dijual)”.

Jelas, kita kudu konsisten memelihara marwah sastra. Karenanya, meski menjadi produk ekonomi kreatif, sastra mesti tetap berkualitas (membawa kalimat indah dan pesan yang sangat bermanfaat), atau kudu tetap mempunyai estetika dan etika. Kegiatan ekonomi kreatif jangan sampai mengurangi semua itu dari sastra. Hubungan antara sastra dan ekonomi kreatif mesti bersifat konstruktif, bukan destruktif.

Saatnya sastra mempunyai branding yang kuat dalam dunia ekonomi. Sastra mesti memiliki idealisme dan progresif. Manajemen pengelolaan sastra harus mampu mewarnai dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bahkan, hari-hari ini ada istilah “writerpreneurship”, sebuah gagasan dan praktik penulis atau tulisan memang bisa terpaut dengan kegiatan bisnis, seumpama pengerjaan buku, lukisan, fotografi, video, serta film.

Saatnya menyambut era ekonomi kreatif. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat, bahwa di tahun 2016 sektor ini menyumbang Rp 642 triliun atau 7,05 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Serta berkontribusi 10, 7 persen atau 11, 8 juta orang dalam penyerapan tenaga kerja. Di tahun mendatang, kita berharap angka-angka ini semakin naik.*

fajarnews.com