fajarnews

Skip Challenge dalam Tinjauan Pendidikan

Redaksi : Iwan Surya Permana | Kamis, 6 April 2017 | 07:00 WIB

Ist
Aris Sabthazi, S.Sos, Guru Sosiologi SMAN 1 Jamblang.*

 

Fajarnews.com- Tantangan  skip challenge di Indonesia  sedang hangat-hangat diperbincangkan. Meskipun belum ada jatuh korban, namun fenomena baru itu cukup ramai diperbincangkan baik di dunia maya ataupun di dunia nyata, terutama di kalangan pelajar, akademisi, ahli kesehatan, pemerintah hingga orang tua. 

Fenomena skip challenge di Indonesia tergolong fenomena baru. Di luar negeri tantangan berbahaya ini sudah menjadi kebiasaan. Setiap waktu selalu saja ada hal unik dan aneh yang dibuat. Dan imbasnya menjadi bahan tiruan di negeri kita ini.

Masih ingat di tahun 2004, di Amerika Serikat ada tantangan berbahaya yaitu dengan mengguyurkan seember air es ke kepala orang yang berani menerima tantangan. Tantangan ini dikenal dengan sebutan The Ice Bucket Challenge. Dengan suhu air es yang sangat rendah dan dingin seseorang harus kuat menahan dinginnya air es.

Dan belum lama juga di tahun 2015 masih berasal dari negara Paman Sam, muncul tantangan yang dikenal dengan sebutan condom challenge alias tatangan kondom (karet). Dalam tatangan ini peserta akan dijatuhkan karet yang telah diisi air. Air yang banyak dalam karet itu akan memberikan beban bagi kepala sehingga yang dirasakan peserta adalah beratnya menahan beban karet air itu. Semakin besar tekanan air tersebut maka semakin mempersempit ruang udara bagi peserta untuk bernafas, dan lambat laun karet air itu akan menipis dan pecah.

Demikian pula dengan tantangan skip challenge. Fenomena skip challenge ini telah ada pada tahun 2008 di  Amerika Serikat dengan sebutan pass out challenge. Teknik tantangannya sama dengan skip challenge yaitu seseorang ditekan pada bagian dadanya oleh teman-temannya kemudian dalam beberapa saat ia akan kejang-kejang hingga pingsan, hingga akhirnya ia mengalami tiga kemungkinan ia akan sadar kembali (normal), mengalami gangguan di kepalanya, atau meninggal dunia.

Pada tahun 2012 seorang remaja bernama David Nuno berusia 15 tahun asal California nyawanya tak tertolong disebabkan mencoba tantangan pass out challenge ini. Ketika mencoba tantangan ini ia pingsan dengan kepala jatuh menghantam meja kaca hingga akhirnya meninggal dunia. Sejak mulai hebohnya pass out challenge di Amerika serikat banyak remaja tertarik untuk mencobanya.

Menurut psikiater yang dilaporkan dalam Daily Mail: Permainan ini telah membunuh beberapa remaja dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2010, dua gadis meninggal di wilayah Chicago setelah melakukan tantangan itu. Bukan dengan menekan dada seperti yang dilakukan David, mereka menalikan tali di leher mereka – untuk mendapatkan efek pingsan sementara, tapi karena tidak ada yang mengawasi, tali itu justru benar-benar membunuh mereka. Untuk itu, ia menyarankan para orangtua untuk terus waspada.

Mencermati fenomena skip challenge di atas maka penulis mencoba menelaah dalam tinjauan pendidikan, yaitu, pertama, skip challenge bukanlah permainan. Mencermati tulisan atau infomasi-informasi yang berkembang baik di media elektronik ataupun cetak, masih banyak dari pembuat informasi menuliskan skip challenge adalah bentuk dari permainan. Sebenarnya itu adalah kekeliruan. Skip challenge bukanlah bagian dari bentuk permainan, melainkan aktivitas yang merusak dan membunuh.

Makna permainan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya sesuatu yang digunakan untuk bermain; barang atau sesuatu yang dipermainkan, atau perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh (hanya untuk main-main) atau menyenangkan hati, hanya untuk sebuah pertunjukan, tontonan, dan menjadi kegemaran di masyarakat. Permainan didasarkan pada rasa senang, sebagai hiburan saja, tidak ada kesungguhan untuk melakukannya.

Alasan pertama, permainan itu dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh atau tidak sampai membahayakan fisik, psikis terlebih nyawanya, hanya sekadar hiburan yang menyenangkan hati dari pemain dan penontonnya saja. Namun jika kita lihat pada aktivitas skip challenge telah keluar dari pemahaman permainan sebenarnya. Skip challenge bukan lagi membuat rasa senang, melainkan memunculkan rasa takut dan cemas, baik bagi pelaku ataupun penontonnya.  Pelaku tidak lagi menghiraukan dampak yang diakibatkan secara kesehatan, hingga keselamatan nyawanya.

Kedua, istilah permainan sengaja dilakukan dengan disaksikan oleh banyak orang sebagai bentuk tontonan. Bagimana dengan aktivitas skip challenge? Aksi skip challenge dilakukan sembunyi-sembunyi. Hanya disaksikan oleh segelintir orang saja. Tempat yang dipakai untuk melakukan adegan itu pun dilakukan di tempat tertutup, seperti di kelas, di kamar  atau di ruangan tertentu. Hal  itu menunjukan bahwa aktivitas skip challenge ini tidak dikenal oleh banyak orang, bahkan cenderung ditutupi.

Menurut ahli kesehatan dr. Rizaldy Pinzon, MKes, SpS dari Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, secara normal dada manusia bekerja mengembang dan mengempis, saat ditekan dengan sangat keras dapat menyebabkan kondisi yang disebut asfiksia traumatik. Tekanan yang sedemikian berat di dinding dada menghalangi pertukaran gas normal dan menyebabkan asfiksia. Asfiksia merupakan istilah untuk kekurangan pasokan darah dan oksigen. Aliran darah otak normal adalah 50 cc/ 100 gram jaringan otak per menit. Apabila turun sampai kurang dari 30 cc/ 100 gram jaringan otak per menit maka akan menyebabkan gangguan fungsi otak. Termasuk global brain iskemia yang menyebabkan hilangnya kesadaran dan kejang. (detik Health). Dr Nikolas Wanahita dari Medical director Gramercy Heart and Vascular Centre Mount Elisabeth Novena Singapura menambahkan, bahwa kekurangan pasokan oksigen ke otak yang terjadi berulang kali akan dapat menyebabkan kerusakan permanen.

Tidak Sesuai

Undang-undang Pendidikan nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 menyatakan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Poin pertama dari tujuan pendidikan nasional adalah negara beserta masyarakat bersama-sama memiliki harapan yang besar dalam menumbuhkembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.

Secara umum seluruh agama pasti akan melarang pemeluknya untuk berbuat aniaya pada dirinya sendiri dan orang lain. Di dalam Islam, Allah  berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS Albaqarah: 195). Sebuah seruan agar pemeluknya dapat menjaga dirinya dari segala bentuk keburukan dan kehancuran. Dalam hadits, Nabi SAW bersabda: “Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudharat) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR Ibnu Majah).

Poin pertama ini memberikan pondasi kepada pemeluk agama untuk dapat mewujudkan bentuk ketakwaan  melalui perbuatannya sesuai kehendak Ilahi. Keimanan yang tertanam kuat akan mengarahkan segala perbuatannya kepada sesuatu yang baik. Perbuatan yang tidak merusak. Perbuatan yang tidak berlaku aniaya pada diri juga orang lain. Jika perbuatan telah sesuai dengan tuntunan agama maka harapannya adalah terbentuknya akhlak yang mulia. Akhlak yang santun, akhlak yang mengasihi dan menghargai terhadap sesama dan makhluk lainnya.

Poin ketiga yaitu menjadikan peserta didik insan yang sehat telah diulas akan banyaknya keburukan yang dirasakan bagi pelaku dalam aktivitas skip challenge itu. Maka sudah pasti aktivitas itu tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu menjadikan peserta didik sehat, justru yang ada adalah kemunduran, kerusakan bahkan kematian.

Tujuan pendidikan nasional telah merumuskan mencetak generasi unggul yaitu dengan menjadikan keimanan sebagai pegangan, maka akan berdampak pada akhlak, kesehatan, kecakapan dalam mengembangkan potensinya, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Oleh karenanya negara sangatlah menjaga setiap perbuatan yang dapat merusak dan membahayakan masyarakatnya.

Demikian juga masyarakat hendaknya selektif dalam melihat segala sesuatu yang datang dari luar negeri. Tidak setiap yang datang dari luar negeri itu buruk, dan tidak setiap yang datang dari luar juga baik. Di sinilah pentingnya masyarakat bersikap selektif untuk dapat memilah dan memilih setiap pengaruh yang datang dari luar. Gunakanlah akal sehat dan hati nurani untuk menimbangnya, sehingga kita menjadi masyarakat yang lugas namun cerdas dalam menyaring setiap perubahan.***

fajarnews.com