fajarnews

Paranoia Penculikan Anak

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 4 April 2017 | 07:00 WIB

Ist
Wartawan HU Fajar Cirebon, Hasan Ma'arif.*

 

DULU, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas II atau kelas III (tahun 1974/1975), soal penculikan anak pernah sangat santer dibicarakan orang-orang di kampung halaman. Kabar (?) tentang adanya sejumlah orang yang mencari anak-anak hingga ke kampung-kampung itu sungguh membuat kami takut. Para orangtua tentu saja merupakan orang yang paling khawatir. Akan tetapi, meski paranoia melanda masyarakat (khususnya di kampung saya),  kabar tentang penculik itu sempat juga dijadikan alasan para orangtua untuk memperingatkan anak-anaknya agar tidak bandel atau nakal. “Hus, jangan nakal, nanti ada culik,” begitu kira-kira para orangtua memperingatkan anak-anaknya dengan maksud mencegah anaknya agar jangan nakal atau bandel.

Kabarnya, para penculik itu berkeliaran mencari anak-anak dengan menggunakan kendaraan jenis tertentu, khususnya kendaraan terbuka yang ada gambar guntingnya. Karenanya para orangtua kerap memperingatkan anak-anaknya bila melihat ada mobil tertentu yang bergambar gunting agar segera menjauhinya.

Kabarnya pula, anak-anak yang diculik itu akan dijadikan tumbal demi kesuksesan sebuah pembangunan proyek besar di daerah-daerah tertentu. Tak tanggung-tanggung, kabar itu menyebutkan tubuh atau kepala si anak yang diculik itu akan dipendam (ditanam) tepat di tengah-tengah proyek pembangunan yang sedang dikerjakan. Sangat mengerikan, bukan?

Terhadap kabar menakutkan yang terus menyebar itu, saya tidak pernah mendapatkan klarifikasi atau verifikasi kebenarannya. Sejak saat saya kecil hingga saya dewasa, saya tidak pernah mendengar –apalagi melihat-- ada peristiwa penculikan anak yang dijadikan tumbal pembangunan proyek. Dalam perspektif masa kini, mungkin saja berita itu adalah kabar bohong (hoax).

Tahun berganti, zaman juga berubah. Namun kabar penculikan anak tetap saja deras. Belakangan bahkan semakin ramai dan membuat masyarakat makin tercekam paranoia hebat. Di tengah kuatnya penggunaan teknologi informatika (TI) kabar penculikan anak menjadi viral. Banyak informasi tak jelas mengenai penculikan anak yang masuk hati dan pikiran para orangtua, khususnya ibu-ibu. Efeknya sungguh sangat luar biasa.

Sangat banyak ibu-ibu di banyak kota dan daerah menunggui anak-anaknya saat bersekolah. Mereka rela berjam-jam menunggui para putra-putri tercintanya sejak mulai berangkat ke sekolah hingga pulang kembali ke rumahnya masing-masing. Begitu juga ketika anak-anak itu bermain di sekitar rumahnya. Sepertinya para ibu ini tidak lagi peduli apakah kabar tentang penculikan anak itu benar atau hanya kabar bohong belaka.

Di sisi lain, polisi di berbagai tingkatan dan daerah terus meyakinkan bahwa kabar penculikan anak itu hanyalah kabar bohong belaka alias hoax. Aparat polisi yang memang sangat berkewajiban untuk menciptakan ketenangan dan kenyamanan masyarakat itu tanpa lelah terus melakukan beragam upaya menepis kabar penculikan anak yang kadung menjadi viral di media sosial (medsos).

Kejadian Penculikan

Kenapa para orangtua sangat apresiatif dan terhegemoni kabar tentang penculikan anak itu? Jawabannya tentu tidak tunggal. Para orangtua pastinya sangat menyayangi anak-anaknya, sehingga mereka mau melakukan apa saja untuk memastikan bahwa tidak ada satu hal buruk pun yang menimpa anaknya.  Di satu sisi, kabar penculikan anak pun pernah bukan hanya sekadar isapan jempol.

Sebut saja pengungkapan kasus penculikan anak di Sukabumi beberapa waktu lalu seperti dilansir koran ini pada akhir Oktober  2016.  Pada berita yang dikutip dari Antara  itu disebutkan Polda Jawa Barat dilibatkan untuk memburu pelaku penculikan empat anak asal Kabupaten Sukabumi di dua lokasi dan waktu yang berbeda pada Oktober 2016. Polda Jabar bahkan mengintruksikan seluruh polsek dan polres yang berada di bawah Polda Jabar ikut memburu pelaku penculikan terhadap empat anak di Kabupaten Sukabumi. Demikian diungkapkan Kapolsek Cireunghas, Ipda Eryanto, di Sukabumi, Senin (31/10).

Adapun keempat anak korban penculikan yang diduga diculik oleh orang yang sama, yakni dua anak asal Kampung Cibatu Pos, RT 24/RW 07 Desa/Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi yakni Muhamad Farhan (8) dan Sultan Ali Syahbana (10). Keduanya diculik pada Minggu 9 Oktober, namun bocah tersebut sudah ditemukan. Kasus penculikan terbaru terjadi pada, Minggu, (30/10) yang korbannya adalah dua anak warga Gandasoli, RT 01/07 Desa Cipurut, Kecamatan Cireunghas yakni Riko Munandar (8) dan Hilman Fauzi (11). Namun, untuk Hilman berhasil melarikan diri saat di stasiun kereta api di wilayah Kabupaten Sukabumi.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi Kota, Joni Surya Nugraha, mengatakan modus yang dilakukan pelaku penculikan ini berpura-pura kehilangan anaknya dan setelah mendapatkan calon korbannya, tersangka mengiming-imingi sejumlah uang untuk ikut bersamanya. Untuk motif penculikan tersebut, sesuai dengan keterangan dari korban yang sudah berhasil ditemukan, yakni para penculik menyuruh korban untuk mengemis dan harus menyetorkan sejumlah uang dari hasil mengemisnya.

Berita terjadinya penculikan empat anak di Sukabumi itu sempat sangat mengejutkan. Masyarakat  sangat prihatin dan sedih. Masyarakat pun sangat marah kepada para penjahat yang merenggut keempat anak itu dari pangkuan keluarganya.

Kejahatan penculikan anak memang bukan hal baru, tapi selalu saja memunculkan kekhawatiran sangat tinggi kepada kita semua mengingat sifatnya yang merampas cinta darah daging kita sendiri. Modus penculikan anak-anak macam-macam. Ada yang berlatar mendapatkan keuntungan uang dalam bentuk uang tebusan, ada juga berlandaskan motif pelecehan, kekerasan fisik sang anak dan pemanfaataan anak-anak untuk kepentingan mencari uang seperti yang terjadi di Sukabumi. Apapun modus dan motifnya, penculikan anak adalah kejahatan serius yang harus diberangus.

Kabar penculikan anak membuat paranoia masyarakat sebab kita semua sangat menyayangi dan mencintai anak-anak kita. Itulah sebabnya kita mau melakukan apa saja demi menjaga dan melindungi anak-anak dari ancaman nyata maupun tidak nyata yang menyasar kehidupan anak-anak tercinta kita. Anak-anak tercinta adalah investasi masa depan. Kita selalu berharap anak-anak kita adalah bagian dari generasi emas bangsa ini yang akan mengharu biru masa depan bangsa dan negara ini.  

Kita berharap anak-anak kita itu tumbuh menjadi generasi sehat, kuat dan aman dari segala ancaman. Dalam perspektif keluarga, anak-anak adalah buah hati kita. Kita mau melakukan apa saja demi kesehatan, keamanan dan kenyamanan hidup mereka. Kita ingin selalu menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada mereka. Tentu kita pula selalu ingin terus menjaganya.

Orang bijak mengatakan menyayangi anak-anak itu mudah. Mengawasi (menjaga) dan mendidiknyalah yang susah. Dibutuhkan tekad yang kuat, ilmu dan rasa cinta yang dalam untuk menjadikan anak-anak kita sebagai anak yang sehat (fisik dan jiwanya) serta anak sukses dalam hidupnya. Bila hanya sekadar menyanyangi kita bisa mewujudkannya dengan (hanya) mengandalkan materi dan sentuhan fisik. Tapi mendidik, menjaga dan mencintainya, tidak semua orang bisa sempurna melakukannya.

Menjaga anak-anak adalah hal yang mutlak diperlukan. Apalagi belakangan ini dunia anak-anak tercinta kita itu terus dibayang-bayangi ancaman kekerasan baik fisik maupun jiwa, lebih khusus lagi ancaman tindakan kekerasan dan pelecehan seksual. Banyak kejadian buruk yang menimpa anak-anak kita belakangan ini yang harus terus kita pantau dan cegah. Anak-anak dijadikan objek perdagangan atau bahkan dijadikan objek pornografi dan pelecahan seksual.        

 Secara umum, kejahatan (dalam beragam bentuknya) yang menyasar anak-anak kita makin nyata saja di hadapan kita. Anak-anak kita sedang berada di wilayah sangat rentan ancaman kekerasan fisik maupun nonfisik berupa kekerasan fisik dan kejahatan seksual. Tak terkecuali adalah ancaman penculikan anak dengan modus dan motif-motif tertentu.

Karenanya tentu kita sangat mafhum bila kemudian para orangtua begitu paranoia dengan beredarnya kabar penculikan anak, baik itu kabar sebenarnya maupun kabar bohong  yang disebarkan di banyak media. Benar bahwa kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya  (hoax) soal penculikan anak itu sangat meresahkan masyarakat. Tapi juga ada sisi positifnya, yakni meningkatnya pengawasan dan pendampingan terhadap anak-anak. Para orangtua makin kuat saja dalam melindungi anak-anaknya, meski memang tentu tidak boleh sangat berlebihan. Kepanikan yang berlebihan ditengarai akan berefek kurang atau tidak baik bagi  pertumbuhan jiwa anak-anak itu sendiri. Begitu, bukan?***

fajarnews.com