fajarnews

Menelisik Filsafat Pengetahuan Cirebon

Redaksi : Admin | Sabtu, 29 Oktober 2016 | 08:23 WIB

-
Mahrus eL-Mawa, Kepala Pusat Perpustakaan, Dosen Prodi AF dan Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

 

CIREBON itu daerah “perawan” untuk kajian naskah kuno. Statemen itu penulis ingat pada tahun 2008 oleh seorang pakar kajian naskah kuno Nusantara. Kini, setelah satu windu, tahun 2016, “Cirebon” tentu sudah “terjamah” oleh para peneliti dan pengkaji naskah kuno di dunia ini, terutama Indonesianis. Sekalipun belum banyak, tetapi karya ilmiah yang berbasis pada pengetahuan telah bermunculan dari naskah kuno Cirebon. Karya-karya itu tidak hanya dari wong Cerbon dewek yang melakukan riset untuk kepentingan dunia akademiknya, tetapi juga dari berbagai kalangan peneliti luar negeri dan dalam negeri. Beberapa di antaranya dari dosen Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, dan Universitas Padjadjaran. Naskah kuno Cirebon dalam konteks itu adalah salah satu sumber pengetahuan bagi orang Cirebon dan pengetahuan tentang Cirebon sendiri.

Selain naskah kuno, masih terdapat berbagai sumber pengetahuan lain di Cirebon, antara lain inskripsi, masjid kuno, keraton, wayang, tari topeng, dan seni budaya lainnya. Melalui sumber-sumber tersebut, kita dapat mengetahui sejarah Cirebon, kesenian, tradisi keilmuan, sampai dengan bahasa Cirebon yang memiliki kekhasan tersendiri dalam bahasa Jawa pada umumnya. Hal serupa, dapat dilihat pada kekhasan dari arsitek masjid kuna di Cirebon. Para peneliti seputar hal-hal tersebut sudah cukup banyak termasuk dari luar negeri, seperti peneliti dari University of California dan Yale University.

Dalam konteks filsafat pengetahuan, berdasarkan kenyataan di atas, ada yang menarik untukkita analisismelalui Tacit Knowledge ala Polanyi. Michael Polanyi (1891-1976) berasal dari Hongaria, di antara beberapa karyanya Personal Knowledge: Towards Post Critical Philosophy (1962) dan Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan (terj. Mikhael Dua, 1996). Dalam catatan Trio Kurniawan[1], Polanyi ini termasuk filosof yang memberi warna baru dalam “epistemologi”, antara lain kritiknya terhadap positivisme. Menurutnya, problem dasar epistemologi itu bagaimana cara manusia mendapatkan pengetahuan, bukan sekadar mencari verifikasi dengan pengukuran positif terhadap pengetahuan sebagaimana mazhab positivisme.

Sejak abad ke-14/15 Cirebon telah membentuk pengetahuannya melalui para tokoh seperti Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon), Syaikh Datul Kahfi, Syaikh Magelung, Syarif Hidayatullah, Nyi Mas Gandasari, Syaikh Abdullah bin Abdul Qahhar, Pangeran Jatmaningrat, hingga Sulendraningrat yang menuliskan tentang sejarah Cirebon dari masa ke masa berdasarkan naskah-naskah yang dimilikinya. Sayangnya, serentetan karya ilmiah, data-data pengetahuan yang ada itu, masih saja dianggap belum cukup untuk menyebut sebagai “epistemologi” Cirebon. Dalam kaitan itu, Polanyi menyebutnya sebagai pengetahuan yang disembunyikan. Atas dasar itu, kiranya tepat tacit knowledge ala Polanyi digunakan untuk melihat kasus Cirebon. Sekurangnya ada dua hal yang dapat dijelaskan secara singkat melalui pengetahuan tacit (seperti dikutip Kurniawan).

Pertama, pengetahuan tacititu pengetahuan tersembunyi akan sesuatu yang kita tidak perlu diartikulasikan, atau berikan alasan untuk dijadikan sebuah kesimpulan. Pengetahuan tacit mungkin hanya seperti sebuah ‘dugaan’ yang manusia miliki, namun ketika kita mengikuti arahnya, tentu setelah meneliti data-data dalam waktu lama, kita akan menemukan kesimpulan yang baru dan ‘segar’. Kita tidak perlu secara terus menerus berada di dalam penelitian ilmiah untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi membangun secara terus menerus pengetahuan dari dalam, dan memberikan pemahaman baru atas data-data yang ada, maka kita akan memiliki pemahaman yang baru.

Kedua, terdapat empat struktur dalam pengetahuan tacit, yaitu struktur fungsional, fenomenal, semantik, dan ontologis. Dari keempat struktur tersebut, dapat dikatakan secara sederhana bahwa dalam suatu proses mengetahui, unsur personalitas manusia yang meyakini pengetahuan itu juga ikut serta. Apa yang ada di dalam dirinya juga berproses untuk memahami realitas di luar beserta fakta-faktanya. Dengan demikian, pengetahuan yang benar dapat diperoleh.

Dengan demikian, melalui pengetahuan tacit berkaitan dengan Cirebon, dapat diambil benang merah sebagai berikut: pertama, apa yang sudah berkembang di Cirebon, mulai dari keseniannya, kebudayaannya, petatah petitihnya, bahasanya, tarekatnya, arsitekturnya, kulinernya, dst. dapat disebut sebagai “filsafat pengetahuan” (epistemologi) Cirebon. Tidak perlu lagi kita minder, takut, atau tidak yakin secara keilmuan bahwa Cirebon mempunyai pengetahuannya sendiri dengan benar.

Kedua, untuk menyakinkan bahwa pengetahuan Cirebon itu ada perlu dilakukan riset, seperti dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Prof. Muhaimin AG., Ph.D. misalnya. Sebagai putra daerah Cirebon, Muhaimin telah menemukan pengetahuan baru di Cirebon bahwa Islam dalam bingkai budaya lokal itu Islam tradisional yang tidak seperti dikatakan Geertz atau yang sepaham dengannya. Sebab, nilai-nilai Islam yang bersifat ‘fitrah’ itu sangat mudah diakomodasi, diserap, dan diadopsi tradisi lain.

Tetapi, jika ada unsur tradisi yang diserap itu bertentangan dengan prinsip tauhid, maka tradisi itu harus dibuang atau digantikan dengan unsur yang Islami (Muhaimin, 2002, cet.II, h.374). Hasil-hasil riset semacam itu, dengan menggunakan prosedur ilmiah dan sudah diuji secara akademik, saat ini sudah mulai bermunculan di berbagai Universitas, seperti disebut di awal tulisan ini.

Akhirnya, secara pendek dapat dikatakan bahwa filsafat pengetahuan tentang Cirebon dengan analisis tacit kowledge sesungguhnya sudah ada, hanya tinggal distrukturkan saja kepada bidang keilmuan apa? Seperti kajian Muhaimin di atas dapat disebut sebagai pengetahuan Budaya Cirebon, lalu menemukan tentang “Islam tradisional”, yang berbeda dengan hasilnya Geertz. Pengetahuan di Cirebon sangat berragam, mulai dari budaya, politik, ekonomi, sosial dan agama. Dalam konteks pengetahuan agama, ternyata kajian Islam juga menemukan identitasnya, baik dalam arkeologi, filologi, ataupun lainnya. Wallahu a’lam.***

 

 

*Tulisan untuk Seminar Nasional, “Merumuskan Epistemologi Keilmuan Klasik Cirebon”, 27 Oktober 2016, oleh Jurusan Akidah Filsafat Fak. Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

[1]https://www.academia.edu/

fajarnews.com