fajarnews

Konsep Diri Menyikapi Musibah Kemarau

Redaksi : Rosyidi | Jumat, 2 Oktober 2015 | 12:00 WIB

-
Aris Sabthazi, S.Sos, Guru SMA Negeri 1 Jamblang.

 

ENAM bulan telah berlalu. Saat ini telah memasuki bulan September 2015, namun hujan tak kunjung datang. Kemarau terus melanda di berbagai daerah di Indonesia, baik yang di Pulau Jawa maupun yang berada di luar Jawa.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, mengungkapkan sejumlah daerah telah mengalami kekeringan lantaran kemarau berkepanjangan akibat fenomena badai El Nino. Daerah tersebut yakni Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Bahkan diprediksi gejala alam kekeringan ini terjadi hingga bulan Desember 2015. Akibat kemarau panjang ini juga, wilayah Cirebon turut mengalami krisis air. Sebanyak 43 desa Kabupaten Indramayu mengalami krisis air bersih. Bahkan di daerah dataran tinggi sekalipun yaitu Kabupaten Kuningan sebagian desanya mengalami kesulitan air. Ada sekitar enam kecamatan di Kabupaten Kuningan yang mengalami kesulitan air bersih. Kesulitan inilah yang dialami oleh warga masyarakat kita.

Dari fenomena tersebut penulis mencoba mencermati gejala-gejala sosial terkait dengan perilaku manusia dalam menyikapi musibah kemarau ini. Pertama, masyarakat umumnya cenderung menjadikan fenomena alam adalah sesuatu yang terpisah dengan kekuasaan Sang Penciptanya. Alam dianggap bagian yang berdiri sendiri tanpa kaitannya dengan Sang Penguasa Alam, Allah SWT. Sehingga ada sebagian orang ketika diuji dengan sesuatu itu mereka cenderung menyalahkan dan tidak menerimanya. Objek itu yang menjadi penyebab kesulitan yang dialami, seperti dengan berkata “kemarau ini disebabkan karena alam kurang bersahabat” atau “gara-gara gak hujan-hujan maka padi saya pada mati.”  Pernyataan itu memberikan gambaran bahwa musibah yang terjadi itu disebabkan karena faktor alam semata. Alamlah yang menjadi penyebab terhadap musibah yang dialami manusia.

Padahal sejatinya alam itu merupakan ciptaan Allah. Alam adalah makhluk ciptaan Allah, seperti halnya manusia atau jin dan lainnya. Alam adalah makhluk yang mengikuti perintah pencipta-Nya yaitu Allah. Jika Allah berkehendak untuk menghentikan air hujan maka Allah cukup memerintahkan kepada awan untuk tidak hujan. Jika Allah berkendak menurunkan air hujan maka Allah cukup perintahkan awan untuk menurunkan airnya. Itu merupakan kekuasaan Allah. Dengan demikian segala fenomena alam yang terjadi dan memiliki dampak bagi manusia pada dasarnya itu merupakan kehendak Allah.  Dalam QS Yasin (36) Allah berfirman: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata padanya , ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”   

Kedua, tidak sedikit dari masyarakat yang mengeluh ketika Allah menguji dengan diberikan musibah. Ada yang menggerutu, marah-marah, bahkan sampai memaki. Hal itu merupakan bentuk luapan kekesalan dan kesulitan yang dialaminya. Cara pelampiasan dengan menggerutu, marah-marah atau semisalnya tidak akan memberikan dampak positif sedikit pun atas apa yang mereka rasakan.

Dalam tinjauan psikologi munculnya perilaku-perilaku temperamental salah satunya disebabkan oleh faktor frustrasi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh de Gloria dalam bukunya “Psikologi Sosial” dijelaskan bahwa frustrasi terkadang menghasilkan agresi karena adanya hubungan mendasar antara efek negatif  (perasaan tidak menyenangkan). (Baron, 2005: 144).

Perasaan kecewa yang tidak disandarkan kepada keimanan yang kokoh dan mental yang positif akan melahirkan luapan emosi, luapan pelampiasan berupa emosi lisan atau sikap yang kurang menyenangkan. Seharusnya sebagai yang memiliki naluri fitrah manusia ketika musibah datang, pertamayang ada dalam benaknya adalah mempertanyakan pada diri sendiri akan kesalahan apa yang pernah diperbuat sehingga musibah ini terjadi.  Atau, kemaksiatan apa yang pernah dikerjakan? Dosa apa gerangan yang diperbuat sehingga Allah menurunkan musibah seperti ini?

Jika pertanyaan itu yang pertama kali diucapakan oleh seseorang maka ia telah menemukan naluri fitrah kemanusiaan yang benar. Pengembalian kepada diri atas segala musibah yang menimpa itu adalah sesuatu lebih baik. Energi yang dirasakan bagi si pelaku jauh lebih positif. Ketenangan lebih ia rasakan. Respon positif kepada orang lain dan lingkungan sekitar terasa lebih nyaman. Ini akan berbeda jika ia mengutamakan emosinya. Ia hanya menyalahkan alam atau orang lain. Energi yang keluar adalah negatif. Orang di sekitar yang mendengarkan ucapan kita tidak nyaman. Keluhan, sumpah serapah, atau sindiran yang cenderung menyalahkan sesuatu sangat kurang enak dinikmati. Hati si pelaku juga semakin kotor.

Dan sedihnya lagi pelampiasan diri yang negatif itu tidak akan mengubah kejadian yang telah terjadi. Bahkan yang ada adalah semakin  memperkeruh keadaan. Hilangnya konsep introspeksi diri pada diri seseorang akan berdampak buruk terhadap diri, orang lain dan lingkungan.

Dalam konsep psikologi tentang pengintrospeksian diri ini dapat kita amati pada “konsep diri”. Konsep diri merupakan penilaian tentang dirinya oleh orang lain yang menyangkut aspek physical, perceptual, dan attitudinal (fisik, persepsi, dan kesikapan). Konsep diri pun merupakan penilaian tentang dirinya yang sering diibaratkan sama dengan/serupa dengan hasil  penilaian orang lain. Dengan demikian, konsep diri merupakan sebuah produk kekuatan diri dan sosial yang merupakan agen penciptaan diri. Pengakuan akan kesalahan diri yang diperbuat akan dapat melahirkan dorongan diri yang positif, dalam kajian psikologi dikenal dengan istilah motivasi.

Menurut Gecas (2000:955), ada tiga motivasi diri yang menonjol dalam literatur psikologi sosial, yaitu: Pertama, motivasi penguatan diri (self-enhancement) atau motivasi harga diri (self-esteem motive). Motivasi penguatan diri  ini mengacu pada motivasi seorang individu untuk mempertahankan atau menguatkan harga diri yang dapat dilakukan kecenderungan orang dalam mendistorsi kenyataan agar tetap positif. Motivasi ini penting khususnya bagi kita yang sedang mengalami musibah kemarau, karena dengan kita menyadari bahwa musibah yang Allah berikan ini merupakan sebab dari dosa-dosa yang kita (manusia) perbuat, kemudian ia bertaubat untuk memperbaiki diri maka dengannya akan menjadikan dirinya “nol” kembali, yaitu menjadi manusia fitri.

Keadaan itu memberikan kekuatan dari dalam (self personal) untuk dapat kembali berpikir, berasa dan bersikap dengan fitrah manusia yang baik, karena ia telah menyadari akan kesalahan yang pernah dilakukannya. Introspeksinya, bisa jadi selama ini kita kurang padai bersyukur kepada Allah. Kita lebih pandai menuntut “hak” daripada memperhatikan “kewajiban” yang diperintah-Nya. Atau bisa jadi kita selama ini banyak melupakan Dia, Dzat yang Maha Agung, Maha Memberi, yang pemberiannya tiada pernah berkurang dan luput sedikit pun kepada kita, namun kita cenderung banyak melupakan keberadaan-Nya.

Ketika kita diberi hujan yang melimpah, panen yang meruah, kita lupa untuk berzakat, kita lupa akan hak anak yatim piatu, orang miskin, dan orang-orang yang membutuhkan. Kita cenderung banyak menghamburkan-hamburkan harta dari hasil pekerjaan kita, mudah berbuat maksiat dan menduakan-Nya dengan sesembahan lain, dan dosa-dosa lainnya. Perbuatan dosa-dosa itulah yang membuat Allah tidak suka. Melalui musibah kemarau yang Ia turunkan ini, Allah ingin menyadarkan kita agar dapat kembali pada-Nya. Inilah yang disebut dengan kekuatan harga diri seseorang.

Kedua, motivasi kekemampuan diri (self-efficacy motive). Motivasi kemampuan diri  ini mengacu pada pentingnya menghayati (experiencing) diri sebagai agen sebab akibat, yaitu motivasi untuk menerima dan menghayati diri sebagai seseorang yang mampu, kompeten, dan tidak dapat lepas dari konsekuensi-konsekuensinya, baik positif maupun negatif. Kekuatan ini muncul sebagai akibat dari kejujuran dalam introspeksi diri. Kesadaran akan kelemahan dan kekurangan akan mengumpulkan energi untuk mau berubah ke   arah yang lebih baik. Perubahan ini mampu menggerakkan potensi diri yang telah ada atau mampu menciptakan potensi diri yang awalnya tidak ada.

Contoh dengan munculnya kemarau panjang tahun 2015 ini ide pikiran seseorang akan terbuka untuk mencari solusi dalam mengatasi kemarau ini, seperti ide melakukan pengeboran tanah untuk mencari air tanah, mengatur jenis tanaman tertentu yang cocok untuk keadaan iklim tertentu, mengatur waktu panen, menciptakan waduk atau bendungan baru, menciptakan hujan buatan, dan temuan-temuan inovasi lainnya yang bermanfaat dalam mengatasi kemarau.

Ketiga, motivasi konsistensi diri (self-consistency motive). Konsep diri ini menyatakanbahwa konsep diri sebagai organisasi pengetahuan atau generalisasi kognitif yang memberi penekanan lebih besar pada motivasi konsistensi diri (Gecas, 2000: 955). Motivasi ini adalah hasil kedua dari motivasi di atas. Motivasi ini sebagai upaya mendorong setiap diri kita untuk mampu tetap ajeg, istiqomah di dalam prinsipnya yang benar. Seseorang haruslah dapat menjaga semangatnya untuk tidak goyah atau menyimpang ke dalam perilaku destruktif. Di sini pentingnya tekad yang kuat, selain itu perlunya ia mencari lingkungan bergaul yang positif, yang sama-sama mendukung dalam mempertahankan konsep diri yang baik. ***

 

Dimuat di HU Fajar Cirebon pada Jumat, 2 Oktober 2015.

fajarnews.com